Ikut Pencak Silat Setelah Sering di-Bully Teman di Sekolah, Alex Zandra Chan, mahasiswa STIE Mandala Jember sering meraih juara dalam kejuaraan nasional pencak silat. Mualaf kelahiran 15 Desember 1999 Bondowoso ini mengaku disiplin menjaga makan, disipli berlatih agar selalu siap bertanding dalam kejuaraan pencak silat. Alex, menjadi anggota perguruan pencak silat Tapak Suci.

Nama Alex Zandra Chan adalah pemberian dari papanya yang bernama Thomas Chan. Alex, sapaan karibnya, adalah keturunan Tionghoa dari papanhya. Sedangkan mamanya Dewi Surati, asli orang Bondowoso. Alex bercerita sejak kecil sekolah, di sekolah Kristen. “Saya bersekolah di TK Perhimpunan Pendidikan dan Pengajaran Kristen Petra ((PPPK Petra) Bondowoso,” tutur Alex mengawali ceritanya.

Alex sekolah di TK Petra karena dulu memang beragama Kristen yang beraliran Kristen Protestan. “Saya termasuk berjemaat serta beribadat di Greja Kristen Indonesia GKI) Bondowoso yang dipimpin oleh Pdt. Martin. Sesudah tamat TK saya masuk di SD Petra,” ungkapnya.

Pada saat kelas 4 SD yakni baru berumur 9 tahun papa Alex, Thomas Chan meninggal dunia. Alex menuturkan bahwa Thomas Chan pendiri Studio Foto tertua di Bondowoso yang bernama Seni Foto Thomas. Thomas Chan Sebelumnya adalah guru sekolah yang dibidang Bahasa Mandarin, di Sumatra Utara.

Setelah Thomas Chan meninggal, Alex hidup berdua dengan mamanya Dewi Surati. Setelah itu ada seorang pria keturunan raden dari Besuki Situbondo menikahi Dewi Surati. “Seiring waktu saya masuk islam karena hidayah Allah SWT, tanpa paksaan melainkan dengan hati yang sadar dan tulus,” imbuhnya.

Seketika dia yang awalnya di SD Kristen langsung berhenti dan memutuskan untuk Ke pondok pesantren pada umur 9 tahun, di Desa Koncer Bondowoso, yang langsung diasuh oleh KH Margono, dulu dikenal sebagai Pelawak sekaligus Kiyai di suatu Pesantren. “Sesudah lulus SD saya melanjutkan untuk kepesantren yang beda yakni Pondok Pesantren Al Faruq yang berada di Kecamatan Grujugan, Bondowoso. Yang dipimpin oleh KH Munawir Ulum sekaligus dosen di STAI At Taqwa Bondowoso,” imbuhnya.

Di Pesantren Al Faruq ini Alex mengenal bela diri Karate. “Saya ingin ikut bela diri dikarenakan semasa SD saya sering di-bully oleh teman sebaya karena ber-entis China dan berkulit putih serta beragama Kristen,” ujarnya. Sejak saat itu, Alex sangat semangat untuk latihan bela diri untuk perlindungan diri saja.

Meskipun Alex sekarang seorang muallaf, keluarga besarnya yang beragama Kristen tidak mempersalahkan. Justru mereka mensuportnya hingga sekarang. “Bahkan saya adalah anak terakhir dari 4 bersaudara dari papa tetapi saya anak pertama dari mama Dewi Surati,” ujarnya. Sebelum menikah dengan Dewi Surati, Thomas Chan punya tiga anak dari istri pertamanya. Ketiga anak tersbeut adalah Ce Eling,Beeny dan San.

Alex punya adik kandung beda ayah yaitu Ayik yang juga beragama Islam. Sedangkan semua kakak-kakak Alex tetap Bergama Kisten. Bahkan, ada saudara Alex yang menjadi Pendeta Kristen.

Setelah Alex lulus dari MTS Al Faruq, dia melanjutkan sekolah di SMA NU Bondowoso. Waktu SMA ini Alex yang sebelumnya ikut karate mengenal pencak silat Tapak Suci. Alex memang ingin mempunyai talenta menekuni bidang tertentu. Alex dikasih tahu tentang Tapak Suci oleh Khoirul Umam temannya. Dia yang mengajak Alex mengikuti sebuah pencak silat yakni Tapak Suci yang dipimpin oleh Pendekar Cung dan dilatih oleh Roni.

Untuk meningkatkan kualitas fisik dan gerakan, Alex menjauh dengan yang namanya rokok. Di saat teman-teman sebayanya mulai mengenal rokok, Alex lebih memilih menghindarinya. Selain alasan kesehatan juga alasan dana yang bisa untuk mememuhi kebutuhan yang lebih penting.

“Sejak itu saya semangat untuk latihan dan bercita-cita dapat mewakilkan Indonesia diajang Internasional, dari SMA saya latihan silat secara rutin. Demi cita-citanya, Alex jalan kaki dari 1 kilometer hingga 3 kilometer kadang juga berangkat bersamaan sohibmya, Umam menggunakan sepeda pancal. Alex memang tidak punya kendaraan bermotor.

Setelah lulus dari SMA Alex ingin kuliah tetapi tidak memiliki dana yang cukup untuk kuliah. “Saya sangat bersyukur ada kampus yang mau memberi beasiswa kepada saya yakni STIE Mandala Jember. Sebelum daftar diSTIE saya telah mendaftar di UIN Khas Jember jurusan Hukum Tata Negara, saya diterima tetapi saya tidak mengambilnya dan saya tetap mengambil di STIE Mandala Jember, Kampus Prestasi yang sudah jelas diterima beasiswa hingga lulus,“ imbuhnya.

Alex sejak dari bangku SMA hingga kuliah sekarang, sering mengikuti lomba pencak silat dari tingkat kabupaten, karesidenan, provinsi, nasional hingga internasional. “Alhamdulillah berbagai macam medali saya dapatkan dari Bronze, Silver, hingga Gold. Dari awal kuliah saya berlatih dibagai tempat yakni di padepokan Tapak suci Jember, Tapak suci UMJ, Tapak Suci UNEJ dan di masjid Al Ikhwan. Teman teman kampus serta teman-teman organisasi seperti HMI sangat mendukung dan mengapresiasi saya untuk melanjutkan lomba lomba berikutnya,” pungkasnya.

Repost From: https://newbiz.id/2022/01/03/alex-zandra-chan-mualaf-keturunan-tionghoa-yang-langganan-juara-silat-nasional/

Leave a Comment